Siklus adopsi teknologi


Rogers' bell curve

Siklus adopsi teknologi adalah model sosiologis yang menjelaskan bagaimana seseorang atau kelompok menerima dan mulai menggunakan produk atau inovasi baru. Model ini didasarkan pada karakteristik demografis dan psikologis dari kelompok pengguna yang berbeda.[1]

Proses adopsi biasanya digambarkan dalam bentuk kurva normal klasik atau “bell curve”. Dalam model ini, kelompok pertama yang menggunakan produk baru disebut inovator (innovators), diikuti oleh pengadopsi awal (early adopters). Setelah itu muncul mayoritas awal (early majority) dan mayoritas akhir (late majority). Kelompok terakhir yang akhirnya ikut menggunakan disebut kelompok tertinggal (laggards) atau phobics. Sebagai contoh, seseorang yang tergolong phobic mungkin baru mau menggunakan layanan komputasi awan (cloud service) ketika itu menjadi satu-satunya cara untuk menyelesaikan tugas tertentu, meskipun ia tidak memiliki pemahaman teknis yang mendalam tentang cara menggunakannya.[1]

Profil demografis dan psikologis (atau “psikografis”) dari setiap kelompok pengguna awalnya dijelaskan oleh peneliti pertanian pada tahun 1956:[1]

  • Inovator (innovators) memiliki lahan yang lebih luas, berpendidikan lebih tinggi, lebih makmur, dan berani mengambil risiko.
  • Pengadopsi awal (early adopters) lebih muda, berpendidikan lebih tinggi, sering menjadi pemimpin komunitas, namun tidak selalu lebih makmur.
  • Mayoritas awal (early majority) lebih konservatif tetapi terbuka terhadap ide baru, aktif di masyarakat, dan berpengaruh bagi tetangga mereka.
  • Mayoritas akhir (late majority) lebih tua, kurang berpendidikan, cenderung konservatif, dan tidak terlalu aktif secara sosial.
  • Kelompok tertinggal (laggards) sangat konservatif, memiliki lahan dan modal kecil, paling tua, serta berpendidikan paling rendah.

Model ini kemudian diadaptasi ke berbagai bidang adopsi teknologi pada akhir abad ke-20, misalnya dalam penyebaran inovasi kebijakan di antara negara bagian di Amerika Serikat.[2]

Adaptasi model

Model ini telah melahirkan berbagai adaptasi yang memperluas konsep aslinya atau menerapkannya pada bidang tertentu. Dalam bukunya Crossing the Chasm, Geoffrey Moore mengusulkan variasi dari siklus hidup adopsi teknologi tersebut. Ia menjelaskan bahwa pada inovasi yang bersifat tidak berkelanjutan (discontinuous innovations), yang dapat menyebabkan gangguan besar seperti yang digambarkan dalam kurva-S (Foster disruption), terdapat celah atau jurang (chasm) antara dua kelompok pengguna pertama (inovator dan pengadopsi awal) dengan pasar vertikal.[3]

Istilah disruption yang digunakan saat ini merujuk pada konsep dari Clayton M. Christensen. Jenis gangguan ini tidak berbasis pada kurva-S.Dalam bidang teknologi pendidikan, Lindy McKeown mengembangkan model serupa dengan menggunakan metafora pensil untuk menggambarkan proses adopsi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam dunia pendidikan.[4] Sementara dalam sosiologi medis, Carl May mengemukakan normalization process theory yang menjelaskan bagaimana suatu teknologi dapat tertanam dan terintegrasi dalam sistem layanan kesehatan maupun organisasi lainnya.

Wenger, White, dan Smith dalam buku mereka Digital Habitats: Stewarding Technology for Communities membahas tentang peran technology stewards atau pengelola teknologi. Mereka adalah individu yang memiliki pemahaman cukup tentang teknologi yang tersedia serta kebutuhan teknologi dalam sebuah komunitas, sehingga mampu membimbing komunitas tersebut melalui proses adopsi teknologi.[5]

Rayna dan Striukova (2009) menyatakan bahwa pemilihan segmen pasar awal memiliki peran penting dalam melewati chasm atau jurang adopsi. Adopsi di segmen ini dapat memicu gelombang adopsi di segmen lainnya. Segmen pasar awal tersebut harus memiliki proporsi besar dari kelompok visioner, cukup kecil agar proses adopsi dapat diamati baik dari dalam maupun luar segmen, dan memiliki keterhubungan yang kuat dengan segmen lain. Jika kondisi ini terpenuhi, maka adopsi di segmen pertama akan berkembang secara bertahap ke segmen berikutnya hingga akhirnya memicu adopsi di pasar massal.[6]

Stephen L. Parente (1995) menggunakan model Markov Chain untuk menjelaskan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara dengan mempertimbangkan perbedaan hambatan teknologi di masing-masing negara.[7]

Dalam pemasaran produk, Warren Schirtzinger mengusulkan perluasan dari model siklus hidup adopsi teknologi yang disebut Customer Alignment Lifecycle. Model ini menjelaskan bagaimana lima disiplin bisnis yang berbeda terbentuk dan berkembang mengikuti urutan proses adopsi teknologi.[8]

Contoh

Salah satu cara untuk memodelkan adopsi produk adalah dengan memahami bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh teman sebaya dan sejauh mana mereka melihat suatu tindakan telah umum dilakukan. Pada banyak teknologi yang bergantung pada format tertentu, orang akan memperoleh manfaat jika menggunakan teknologi yang sama dengan teman atau rekan kerjanya.[9]

Misalnya, jika dua pengguna sama-sama mengadopsi produk A, mereka mendapat keuntungan sebesar a > 0. Jika keduanya memilih produk B, mereka mendapat b > 0. Namun, jika satu menggunakan A dan yang lain B, keduanya tidak mendapat keuntungan (0). Setiap pengguna memiliki ambang batas tertentu untuk mulai mengadopsi produk. Misalnya, sebuah simpul v dalam grafik memiliki d tetangga. Simpul v akan mengadopsi produk A jika proporsi p dari tetangganya yang menggunakan A sama dengan atau melebihi ambang batas tersebut. Jika ambang batas v adalah 2/3 dan hanya satu dari dua tetangganya yang memakai A, maka v tidak akan mengadopsi A. Dengan model ini, adopsi produk dapat dimodelkan secara deterministik pada jaringan contoh.

Sejarah

Model technology adoption lifecycle merupakan pengembangan dari model sebelumnya yang disebut diffusion process. Model ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1956 oleh George M. Beal dan Joe M. Bohlen. Artikel tersebut awalnya tidak menyebut kontribusi mahasiswa doktoral Beal, Everett M. Rogers. Namun, tak lama kemudian Beal, Bohlen, dan Rogers menulis artikel ilmiah bersama yang menjelaskan metodologi mereka.[10]

Penelitian ini dikembangkan dari karya sebelumnya oleh Neal C. Gross dan Bryce Ryan. Rogers kemudian memperluas konsep diffusion process agar berlaku untuk inovasi di luar sektor pertanian di wilayah Midwest Amerika Serikat, dan berhasil mempopulerkannya melalui buku terkenalnya Diffusion of Innovations (1962), yang kini telah mencapai edisi kelima.[11][11]

Referensi

  1. ^ a b c ageconsearch.umn.edu. doi:10.22004/ag.econ.17351 https://ageconsearch.umn.edu/record/17351. Diakses tanggal 2025-11-02.
  2. ^ Savage, Robert L. (1985). "Diffusion Research Traditions and the Spread of Policy Innovations in a Federal System". CrossRef Listing of Deleted DOIs. 15 (4): 1. doi:10.2307/3330039. ISSN 0000-0000.
  3. ^ Roberts, Edward B.; Murray, Fiona; Kim, J. Daniel (2019). "Entrepreneurship and Innovation at MIT: Continuing Global Growth and Impact—An Updated Report". Foundations and Trends® in Entrepreneurship. 15 (1): 1–55. doi:10.1561/0300000093. ISSN 1551-3114.
  4. ^ "NETWATCH: Botany's Wayback Machine". Science. 316 (5831): 1547–1547. 2007-06-15. doi:10.1126/science.316.5831.1547d. ISSN 0036-8075.
  5. ^ Wenger-Trayner, Étienne; White, Nancy; Smith, John David (2009). Digital habitats: stewarding technology for communities (Edisi 1. ed). Portland, Or: CPsquare. ISBN 978-0-9825036-0-7.
  6. ^ Rayna, Thierry; Striukova, Ludmila; Landau, Samuel (2009-07-01). "Crossing the Chasm or Being Crossed Out". International Journal of Actor-Network Theory and Technological Innovation. 1 (3): 36–54. doi:10.4018/jantti.2009070103. ISSN 1942-535X.
  7. ^ Parente, Stephen L. (1995-10-01). "A model of technology adoption and growth". Economic Theory (dalam bahasa Inggris). 6 (3): 405–420. doi:10.1007/BF01211784. ISSN 1432-0479.
  8. ^ "Value Alignment Infographic". High Tech Strategies (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-02.
  9. ^ Moussawi, Sara; Mertz, Joseph; Quesenberry, Jeria; Tu, Xiaoying; Poepping, Julia; Heimann, Larry; Sooriamurthi, Raja; Liginlal, Divakaran; Kowalsky, Christopher (2024). "Building Future Information Systems Leaders: The Crucial Role of Problem Scoping in Service-Learning Experiences". Communications of the Association for Information Systems. 55: 946–977. doi:10.17705/1cais.05536. ISSN 1529-3181.
  10. ^ Klonglan, Gerald El; beal, George M.; Bohlen, Joe M.; Coward Jr, Walter (1966-01-01). "ADOPTION OF PUBLIC FALLOUT SHELTERS: A 1966 NATIONAL STUDY". Fort Belvoir, VA.
  11. ^ a b Gross, Neal Crasilneck. "The diffusion of a culture trait in two Iowa townships". Iowa State University.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.