Perang Salib demi Kekaisaran Latin

Sejak didirikan pada tahun 1204 setelah Perang Salib Keempat, Kepausan memberikan dukungan yang konsisten kepada Kekaisaran Latin Konstantinopel —yang didirikan oleh tentara salib Barat di wilayah Bizantion sebelumnya —dengan memberikan indulgensi perang salib kepada mereka yang ikut serta dalam pembelaanya.

Dampak dari Perang Salib Keempat

Baldwin I, Kaisar Latin dan para kesatria-nya (dari manuskrip abad ke-14 dari kronik Wiliam dari Tyre)

Baldwin I memberitahukan kepada Innocentius III mengenai pemilihannya melalui sebuah surat yang juga menjelaskan keadaan yang melatarbelakanginya. Ia menekankan dugaan ketidaktaatan Gereja Bizantium terhadap otoritas kepausan. Ia juga menuduh bangsa Bizanton bersikap bermuka dua, memusuhi, serta menghalangi ekspedisi menuju Tanah Suci tetap menjadi tujuan utamanya. Tanpa menunggu balasan Paus, Baldwin mengajukan permohonan langsung kepada para pemimpin Barat lainnya, termasuk Uskup Agung Adolph dari Köln. Menurut Chrissis, langkah ini secara efektif membuatnya "membajak perang salib".[1][2]

Lukisan dinding pertengahan abad ke-13 - Biara Sacro Speco Santo Benediktus - Subiaco (Roma)
Paus Innocentius III

Dalam balasannya terhadap surat Baldwin pada November 1204,[3] Innocentius mengizinkan para peserta Perang Salib Keempat untuk tetap tinggal dan mempertahankan Kekaisaran Latin alih-alih segera melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci.[4] Dengan menekankan bahwa kehadiran mereka di Konstantinopel sangat penting bagi pertahanan Tanah Suci, ia menganugerahkan indulgensi perang salib kepada mereka. Pada April atau Mei 1205, ia selanjutnya memerintahkan mereka untuk tetap tinggal di sana selama satu tahun, meskipun tanpa membebaskan mereka dari kewajiban utama untuk kemudian melanjutkan kampanye ke Tanah Suci.[2] Kemudian pada Mei, ia memperluas pemberian indulgensi perang salib kepada para rekrutmen baru, dengan alasan bahwa posisi Baldwin terlebih dahulu harus diamankan agar ekspedisi ke Tanah Suci dapat diteruskan. Menurut pandangan Chrissis, langkah-langkah ini "merupakan titik balik penting", karena Innocentius mengesahkan "penggunaan mekanisme perang salib" untuk membela Kekaisaran Latin, dengan membenarkan kebijakan tersebut melalui perlindungan terhadap Tanah Suci dan penyatuan gereja-gereja.[5]

Perang Salib Uskup Nivelon dari Soissons

Kelayon dari Bulgaria memulai perundingan dengan Paus Innocentius III menjelang Perang Salib Keempat. Sebagai imbalan atas pengakuannya terhadap supremasi kepausan atas Gereja Ortodoks Bulgaria, Innocentius menawarkan kepadanya mahkota kerajaan. Dalam upaya memperkuat posisinya di kancah internasional, Kaloyan menerima tawaran tersebut, tetapi meminta gelar tsar untuk dirinya sendiri dan gelar patriark bagi kepala Gereja Bulgaria. Innocentius kemudian mengirim seorang utusan kepausan ke Bulgarai yang memahkotai Kaloyan sebagai raja pada 7 November 1204 serta menganugerahkan gelar primas kepada pemimpin gereja Bulgaria, sehingga hanya sebagian memenuhi permintaan Kaloyan. Kaloyan tidak melepaskan klaimnya dan tetap menyebut dirinya sebagai tsar.[6][7]

Henry I adalah kaisar kedua Kekaisaran Latin Konstantinopel.

Setelah penjarahan Konstatinopel, Kaloyan mulai menegaskan kendalinya atas Trakia dengan merebut wilayah-wilayah dari para archontes (bangsawan) Yunani setempat. Meskipun ia bersedia mencapai kompromi dengan bangsa Latin mengenai pembagian wilayah tersebut, pihak Latin berupaya menguasai seluruh bekas wilayah Bizantium. Mereka juga menolak mengukuhkan para archontes Trakia atas kepemilikan mereka, dengan maksud membagi pedalaman Konstantinopel di antara mereka sendiri. Sebagai tanggapan, bangsa Yunani melakukan pemberontakan terbuka dan mencari perlindungan Kaloyan. Setelah orang-orang Yunani di Adrianopel mengusir garnisun Latin dan menyerahkan diri kepadanya, Baldwin I bergerak menyerang kota itu tanpa menunggu bala bantuan. Pasukannya dikalahkan di kota pada 14 April 1205 oleh Kaloyan dan sekutu Kumannya. Baldwin ditangkap di medan perang dan dibawa sebagai tawanan, sementara Kaloyan memberitahukan Paus tentang kematiannya pada Juli 1206.[8][9] Baldwin kemudian digantikan oleh saudaranya, Henry, yang dimahkotai sebagai kaisar pada 20 Agustus.[10]

Sementara itu, dua utusan di Timur, Kardinal Peter Capuano dan Soffred, meninggalkan negara-negara Tentara Salib menuju Konstantinopel, tempat mereka membebaskan para tentara salib dari kewajiban melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci. Pada Juli 1205, Paus Innocentius dengan keras menegur keputusan ini setelah baru megetahui kekejaman yang terjadi selama penjarahan Konstantinopel. Pada bbulan yang sama, Henry, yang bertindak sebagai wali bagi saudaranya yang tertawan, menulis kepada Paus dan mendesaknya untuk menyerukan perang salib di seluruh Eropa Katolik. Ia menunjuk ekspansionisme Kaloyan dan pemberontakan Yunani di Trakia sebagai ancaman, serta mengaitkan bencana-bencana terbaru dengan dosa-dosa bangsa Latin. Surat tersebut dibawa oleh Nivelon de Quierzy, Uskup Soissons, bersama para kesatria Nicholas dari Mailly dan John Bliaud. Sebagai tanggapan, Innocentius mengeluarkan ensiklik yang memberikan indulgensi perang salib kepada mereka yang mengangkat senjata demi mempertahankan Kekaisaran Latin, sambil menegasakan bahwa penguasa Latin atas Konstantinopel memberikan "harapan pasti bahwa Yerusalem akan dibebaskan dari kaum kafir". Sebagai wali bagi Frederick dari Sisilia yang masih di bawah umur, ia juga menjamin perjalanan aman bagi tentara salib ke Apulia dan mengatur pengangkutan mereka dari Brindisi, serta memerintahkan mereka memberitahukan waktu kedatangan yang diperkirakan.[11]

Uskup Nivelon menyebarkan surat-surat yang menggabungkan kutipan dari permohonan Henry dan ensiklik kepausan yang memberikan indulgensi. Pada saat yang sama, Innocentius memberitahukan Kaloyan tentang rencana perang salib tersebut dan mendesaknya untuk membebaskan Baldwin serta mencapai kesepakatan dengan bangsa Latin. Dari Roma, Nivelon melakukan perjalanan ke timur laut Prancis dan Flandria untuk berkhotbah menyerukan perang salib sambil membawa relikui. Saudara Henry, Philip I dari Namur, tampaknya ditunjuk sebagai pemimpin ekspedisi ini, karena pada April 1206 Innocentius mendesaknya untuk berangkat ke Konstantinopel. Dalam surat yang sama, Paus membebaskan para peserta dari seluruh nazar ziarah lainnya, kecuali yang berkaitan dengan Tanah Suci. Menurut Chrissis, hal ini menandai contoh terdokumentasi pertama mengenai pengalihan nazar (vow commutation). Namun, Philip mengundurkan diri dari ekspedisi tersebut dan menolak memberikan dukungan keuangan. Meskipun demikian, Annales Reineri mencatat bahwa "sejumlah besar rohaniwan, biarawan, dan awam tersulut oleh semangat iman" dan mengambil salib.[12]

Akhir dari perang salin ini masih belum pasti. Uskup Nivelon wafat di Bari pada September 1207.[13] Sejarawan abad pertengahan Walter Norden[14] dan ahli Bizantium Ernst Gerland[15] menyatakan bahwa pasukan perang salib "terpecah"setelah kematiannya, tetapi menurut Chrissis mereka tidak memberikan bukti yang meyakinkan untuk mendukung klaim tersebut. Sebaliknya, redaksi awal kronik Niketas Choniates yang disusun pada awal 1210-an mencatat kedatangan para tentara salib di Dyrrahion dan kekalahan mereka oleh Michale I Komnenos Doukas, penguasa Yunani Epirus, ketika bergerak ke timur. Nicholas dari Mailly dan John Bliaud kembali ke Kaisaran Latin, tempat mereka berperang melawan bangsa Bulgaria pada 1207-1208. Sekitar pergantian tahun 1207-1208, kontingen tentara salinb lainnya yang dikirm oleh Philip dari Namur tiba di Konstantinopel di bawah pimpinan Peter dari Bulgaria, penerus Kaloyan, serta melawan para bangsawan Lombardia yang memberontak di Kerajaan Tesalonika.[16]

Retorika Perang Salib

Setelah Pertempuran Adrianopel, Kaloyan merebut Serres dan Philippopolis. Pemenjaraan dan eksekusi banyak penduduk mendorong populasi Yunani untuk mencari rekonsiliasi dengan bangsa Latinn, sehingga memungkinkan Kaisar Henry dan Raja Boniface dari Tesalonika mempertahankan otoritas Latin di Trakia dan Makedonia. Setelah Boniface tewas dalam bentrokan dengan para perampok Bulgaria pada 4 September 1207, ia digantikan oleh putranya yang masih di bawah umur, Denetrius, di bawah perwalian ibunya, Margaret dari Hungaria. Namun, kaum aristorat Lombardia setempat menentang pemerintahannya dan memilih salah seorang dari mereka sendiri, Hubert dari Biandrate, sebagai wali bagi raja muda tersebut.[17] Kaloyan tidak mampu memanfaatkan situasi ini karena ia meninggal dalam keadaan yang tidak pasti di depan tembok Tesalonika pada Oktober. Putranya yang berusia sebelas tahun, Ivan Asen, terpaksa mencari pengasingan, dan takhta kemudian diwariskan kepada keponakan Kaloyan, Boril, yang terbukti tidak mampu menegakkan otoritas efektif para penguasa perbatasan yang membangkang.[18][19]

Kaisar Henry memanggil Hubert ke Konstantinopel untuk menuntut sumpah setianya, tetapi Hubert menolak, sehingga mendorong Henry bergerak menuju Tesalonika. Meskipun menghadapi perlawanan dari bangsawan Lombardia, Henry berhasil mengamankan Tesalonika dengan dukungan Margaret dan para pengikutnya, lalu memahkotai Demetrius sebagai raja pada Januari 1209. Hubert dan para pendukungnya melarikan diri ke Boetia, tetapi Henry mengejar mereka dan memaksa mereka menyerah pada awal musim panas.[20] Kekalahan Latin di Adrianopel memungkinkan Theodore Laskaris mengonsolidasikan dan memperluas kekuasaanya di Anatolia barat. Pada 1208 ia mengadakan sinode di ibu kotanya yang memilih Michael Autoreianos sebagai patriark ekumenis. Pada Hari Paskah, Michael memahkotai Theodore sebagai kaisar, sehingga menegaskan klaimnya sebagai penerus sah para kaisar Bizantium.[21] Meningkatnya pengaruh konsep-konsep perang salib di dunia Yunani tercermin sekitar tahun 1208-1210 ketika Patriark Michael memberikan indulgensi kepada mereka yang mengangkat senjata melawan bangsa Latin.[22]

Untuk memperoleh dukungan di Barat, bangsa Latin di Konstantinopel kerap menggunakan citra dan retorika perang salib, dengan menampilkan diri mereka sebagai pembela Gereja dan lawan-lawan mereka sebagai musuh Gereja. Sejak awal, para kaisar Latin secara teratur mengirim relikui kepada para penguasa Barat guna membangkitkan antusiasme terhadap upaya perang salib demi mempertahankan kekaisaran mereka. Henry secara khusus aktif membangun dukungan Barat. Kampanye-kampanye kadang dibingkai dengan ritual perang salib: para prajurit mengaku dosa dan menerima komuni, sementara para prelatus yang hadir menjanjikan indulgensi penuh. Dalam kampanyemya melawan Boril, misalnya, kapelan Philip mendampingi pasukan sambil membawa relik Salib Sejati. Philip membawa relik yang sama ke Pertempuran Philippopolis, tempat ia memberikan absolusi kepada para prajurit, yang kemudian maju dengan seruan perang salib, "Holy Sepulchre! (Makam Suci)".[23]

Pernyataan-pernyataan kemenangan Henry atas lawan-lawan Yunani dan Bulgaria secara konsisten mengaitkan keberhasilannya dengan pertolongan ilahi dan diakhiri dengan seruan meminta bala bantuan dari Barat, sembari menekankan kecilnya jumlah pasukan yang ia miliki.[24] Bangsa Latin berpendapat bahwa berdirinya kekaisaran mereka merupakan perwujudan penyelenggaraan ilahi, sehingga pembelaannya dipandang sebagai pengabdian kepada Tuhan. Penafsiran ini dengan cepat diadopsi oleh para intelektual Barat, yang mendorong kepada biara Sistersian Arnaud Amaury menggambarkan gerakan perang salib tiga arah, di mana "kaum skismatis dari Timur" dimasukkan sebagai musuh.[25] Sejak awal dekade 1210-an, upaya Paus Innocentius untuk merekrut pasukan bagi Kekaisaran Latin menurun karena perhatiannya beralih pada perang salib untuk merebut kembali Tanah Suci. Meski demikian, ia tetap mendukung Henry dengan melarang umat Katolik, di bawah ancaman ekskomunikasi, memasuki dinas para penguasa Epirus dan Nikea. Pada April 1213 ia memproklamasikan Perang Salib Kelima, tetapi bulla Quia maior tidak diedarkan di Kekaisaran Latin, yang menunjukkan bahwa ia tidak mengharapkan pasukan mereka untuk ikut serta.[26]

Kemenangan Henry atas Boril di Philippolis mengukuhkan kekuasaannya atas kota itu dan memastikan ketundukan sepupu Boril, Alexius Slav, yang menguasai Pegunungan Rhodope. Pada 1209, Michael dari Epirus juga mengakui supremasi Henry, tetapi segera membelot dan bergabung dengan Boril serta kerabatnya, Strez, dalam serangan terhadap Tesalonika. Henry berhasil memukul mundur serangan tersebut dan merebut wilayah dari Michael maupun Strez, sehingga memaksa Michael memohon perdamaian pada 1211. Pada tahun yang sama, pasukan Nikea bergerak menuju Konstantinopel; namun Henry membujuk Kesultanan Seljuk Rum untuk menyerang Nikea dari timur, memaksa pasukan Nikea mundur. Pada musim gugur 1211 ia secara penaklukan Anatolia barat laut, meskipun kekurangan pasukan untuk menjaga benteng-benteng menghambat perluasan lebih lanjut. Perdamaian kemudian dicapai dengan Theodore.[27]

Pada 1213 atau 1214, perundingan mengenai persatuan gerejawi dibuka antara utusan kepausan Plagius dari Albano dan Nicholas Mesarites, metropolitan Ortodoks Efesus di Nikea, tetapi tidak membuahkan hasil. Pada masa ini, permusuhan Yunani terhadap bangsa Latin makin diperkuat oleh karya-karya polemis, termasuk pamflet anonim Kekejaman Latin di Konstantinopel setelah Penaklukan serta risalah teologis karya Constantine Stilbes mengenai doktrin Katolik yang juga membahas persoalan indulgensi perang salib.[28]

Konsolidasi

Perang Salib Pembebasan Kaisar Peter

Lukisan Paus Honorius III berlutut di kaki Kristus

Pada 11 Juni 1216, Kaisar Henry wafat tanpa meninggalkan ahli waris langsung.[29][30] Pada 16 Juli, Paus Innocentius III juga meninggal dunia dan dua hari kemudian Honorius III terpilih sebagai penggantinya. Seperti pendahulunya, Honorius menunjukkan sedikit kecenderungan untuk mengerahkan pasukan perang salib baru demi membela Kekaisaran Latin, meskipun ia tidak bersikap bermusuhan terhadap bangsa Latin. Para baron Latin kemudian memilih saudara ipar Henry, Peter dari Courtenay, suami dari saudari Henry, Yolanda, sebagai kaisar. Seorang bangsawan Prancis yang kaya, Peter berangkat menuju wilayah kekuasaannya yang baru dengan membawa 160 kesatria dan sekitar 5.500 pasukan tambahan. Pada 9 April 1217, ia dimahkotai di Roma oleh Honorius, di luar Tembok Aurelianus, agar tidak merugikan klaim Frederick dari Sisilia atas Kekaisaran Romawi Suci yang didukung oleh kepausan.

Berlayar dari Brindisi dengan kapal-kapal Vanesia, Peter mendarat di Dyrracium, yang baru saja direbut oleg Epirus dari Venesia. Setelah mengepung kota itu, ia bergerak menuju Konstantinopel, tetapi dicegat dan ditangkap bersama utusan kepausan Kardinal Giovanni Colonna oleh pasukan Epirus. Pada saat itu, Epirus diperintah oleh Theodore Komnenos Doukas, yang menggantikan saudara tirinya, Michael, yang dibunuh oleh seorang pelayan kurang dari dua tahun sebelumnya. Theodore kemudian memanjarakan Peter di sebuah penjara Epirus.[31][32]

Paus Honorius mendesak Theodore untuk membebaskan Kaisar Peter dan Kardinal Giovanni, sembari mengancam invasi oleh kekuatan-kekuatan Katolik. Ia juga mengajukan permohonan kepada Andrew II dari Hungaria, menantu Peter sekaligus mantan calon takhta Latin, yang saat itu sedang mempersiapkan perang salib ke Tanah Suci, agar menekan Theodore dengan ancaman serangan perang salib. Pada 4 November 1217, Honorius memerintahkan para prelatus Prancis untuk mengkhotbahkan perang salib demi pembebasan Peter. Dalam upayanya memperoleh dukungan, ia menggambarkan penahanan Peter sebagai penghinaan terhadap kehormatan Prancis dan menekankan besarnya bahaya yang mengancam Kekaisaran Latin. Honorius juga mendesak Robert dari Courtenay, saudara Peter, untuk bergabung dalam ekpedisi tersebut, dengan mengalihkan nazarnya untuk pergi ke Tanah Suci, sehingga pembelaan terhadap Kekaisaran Latin dipresentasikan sebagai tujuan perang salib tersendiri.[33]

Peter meninggal dalam penawanan, tetapi atas desakan paus, Theodore membebaskan Kardinal Giovanni. Sebagai ungkapan terima kasih, Honorius segera menempatkan Giovanni dan Epirus di bawah perlindungan kepausan serta melarang para tentara salib dan bangsa Venesia menyerangnya. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian utama Honorius sejak awal sebenarnya adalah Perang Salib Kelima. Ketika Pelagius, yang saat itu bertugas sebagai utusan Honorius bagi para tentara salib di Damietta, Mesir, mengkritiknya karena mengalihkan energi perang salib ke Kekaisaran Latin dan Occitania, Honorius menjawab bahwa ia secara tegas telah melarang mereka yang sudah mengambil salib untuk mengubah tujuan ekspedisi mereka.[34]

Perang Salib Montferrat

Theodore dari Epirus menjalankan kebijakan ekspansionis dengan merebut sejumlah kota benteng penting dari bangsa Latin, termasuk Neopatras dan Zeitounion.[35] Pada 1221 ia juga berhasil merebut Serres, sehingga menguasai sebagian besar Makedonia dan Thessalia, serta menjadikan Tesalonika, sebagaimana dicatat sejarawam Jhon V. A. Fine, sebagai "sebuah pulau di tengah-tengah wilayah kekuasaan Theodore". Sementara itu, Kekaisaran Latin mula-mula diperintah oleh Pemaisuri Yolanda dan, setelah kematiannya pada September 1219, oleh sebuah dewan perwakilan yang didominasi oleh Kardinal Giovanni Colonna. Kekuasaan kemudian beralih kepada Robert dari Courtenay, putra Yolanda dan Peter dari Courtenay, setelah kedatangannya dari Barat pada Maret 1221.[35]

Setelah jatuhnya Serres, Demetrius muda dari Tesalonika melakukan perjalanan ke Italia bersama Uskup Agung Warin untuk mencari bantuan militer melawan Epirus. Setelah bertemu dengan Paus Honorius III, Demetrius dan saudara tirinya yang lebih tua, Wiliam VI dari Montferrat, juga mengunjungi Kaisar Romawi Suci Frederick II. Sementara itu, kegagalan Perang Salib Kelima di Mesir memungkinkan paus untuk mengalihkan semangat perang salib ke arah Kekaisaran Latin. Ia menunjuk Hubert dari Biandrate, mantan wali Demetrius, untuk merekrut pasukan dengan imbalan indulgensi perang salib dan mendesak Kaisar Robert agar bekerja sama dengannya. Dalam membenarkan ekspedisi tersebut sebagai upaya membela kekaisaran, Honorius menyebut bangsa Yunani —tampaknya untuk pertama kalinya dalam dokumen kepausan— sebagai "musuh Iman".[36]

Pada awal 1223, ibu Demetrius, Margaret, melarikan diri dari Tesalonika menuju Hungaria, dan Guy Pallavicini, markis Bodonitsa, mengambil alih tenggang jawab atas pertahanan kota. Theodore segera mengepung Tesalonika, mendorong Honorius memproklamasikan perang salib penuh untuk menyelamatkan kota itu pada Mei 1223. Ia mengizinkan mereka yang telah bernazar menuju Tanah Suci untuk bergabung dalam ekspedisi ini tanpa dibebaskan dari nazar asal mereka, serta memberikan indulgensi penuh bagi mereka yang gugur selama kampanye. Pada awal 1224, William VI beserta pasukkanya ditempatkan di bawah perlindungan kepausan, sementara para prelatus di Italia dan Burgundia diperintahkan untuk mengkhotbahkan perang salib dan menawarkan indulgensi penuh bagi rekrutan baru.[37][38]

Ekspedisi ini dibiayai dari dana kepausan—15,000 mark perak yang diambil dari pungutan seperduapuluh atas pendapatan rohaniawan untuk pertahanan Tanah Suci—dan sebagian lagi melalui penggadaian Montferrat kepada Kaisar Frederick. Namun, sakit yang diderita William menunda keberangkatannya, sehingga diperlukan pengeluaran tambahan yang dipenuhi melalui pajak khusus atas pendapatan rohaniawan di Kekaisaran Latin.[39]

Sementara itu, Kaisar Robert mengirim Thierry dari Walincourt untuk menyerang Serres, tetapi pasukannya dikalahkan oleh Theodore dari Epirus. Robert juga ikut campur dalam krisis suksesi setelah wafatnya Theodore Laskaris di Nikea, tetapi menantu sekaligus penerus Laskaris, John III Vatatzes, mengalahkan bangsa Latin dan sekutu mereka dalam Pertempuran Poimanenon.[40][41] Paus Honorius mendesak para penguasa Latin di Yunani, khusunya Geoffrey I dari Villehardouin, pangeran Akhaya, dan Othon de Ia Roche, penguasa Athena, agar membantu sesama bangsa Latin di Tesalonika. Namun, karena sebagian besar Thessalia berada di bawah kendali Epirus, mereka tidak mampu mencapai kota tersebut.

Setelah hampir dua puluh bulan bertahan, Tesalonika menyerah kepada Theodore dari Epirus pada Desember 1224. Wiliam VI dan pasukannya baru berangkat pada musim semi berikutnya. Meskipun besarnya pasukan tidak diketahui secara pasti, para kesatria Lombardia, Toskana, dan Burgunia turut ambil bagian. Sebuah catatan oleh metropolitan Ortodoks Naupaktos, John Apokauskos, yang menggambarkan kapal-kapal memenuhi lautan dan kuda-kuda menutupi daratan, menunjukkan bahwa pasukan itu cukup besar. Para tentara salib mendarat di Halmyros, Thessalia, tetapi gagal maju ke kota karena seluruh jalur menuju daratan telah dikuasai pasukan Epirus. Pada September, William dan sebagian besar pasukannya meninggal akibat disentri, sehingga ekspedisi tersebut berakhir dengan kegagalan total.

Demetrius meninggal dalam pengasingan di Italia pada 1230 setelah menyerahkan klaimnya atas Kerajaan Tesalonika kepada Kaisar Frederick II.[42][43] Penggunaan perang salib melawan bangsa Yunani segera menuai kritik di Barat, sebagaimana tercermin dalam puisi troubadour Oksitania Guilhem Figueira, yang mengecam kepausan sebagai "palsu dan penuh tipu daya", merugikan bangsa Oksitania dan Yunani sembari "hanya sedikit merugikan kaum Serasen".[42]

Setelah penaklukan Tesalonika—yang sebelumnya merupakan kota terbesar kedua Kekaisaran Bizantium— Theodore dari Epirus meyakini bahwa klaimnya atas warisan kekaisaran sama kuatnya dengan saingannya di Nikea. Karena itu memutuskan untuk menyandang gelar kaisar. Namun, Constantine Mesopotamites, metropolitan Ortodoks Tesalonika yang telah ia pulihkan jabatannya, menolak memahkotainya. Mesopotamites kemudian diasingkan, dan sebuah sinode para uskup Epirus menyetujui pengangkatan Theodore sebagai kaisar. Ia dimahkotai oleh Uskup Agung Demetrius dari Ohrid sekitar tahun 1225, tetapi Patriark Konstantinopel Germanos II, yang saat itu bermukim di Nikea, segera menolak hak Demetrius untuk melaksanakan penobatan tersebut.[44]

Klimaks

Perang Salib untuk Kaisar Baru

Paus Honorius III wafat pada 18 Maret 1228. Penggantinya, Gregorius IX, mengawasi penyelenggaraan berbagai kampanye perang salib terhadap beragam musuh di berbagai medan peperangan, termasuk melawan kaum Katar di Occitania serta lawan-lawan politiknya di Jerman dan Italia. Setelah jatuhnya Tesalonika, bangsa Latin hanya mampu mempertahankan Konstantinopel karena para pesaing utama mereka—Epirus, Bulgaria, dan Nikea—"tidak dapat membiarkan salah satu dari mereka sendiri merebut kota itu", sebagaimana dicatat sejarawan Kenneth M. Setton. Bangsa Latin kemudian melepaskan beberapa wilayah mereka yang tersisa di Anatolia sebagai imbalan atas aliansi anti-Epirus dengan Nikea.

Kaisar Robert, yang tidak populer karena kemalasan dan perilaku bejatnya, diusir oleh rakyatnya dan meninggal dalam pengasingan di Akhaya pada awal 1228. Ia digantikan oleh adiknya yang berusia sebelas tahun, Baldwin II, dengan bangsawan Narjot de Toucy sebagai wali penguasa.

Ivan Asen II dari Bulgaria mengusulkan aliansi pernikahan antara putrinya, Helen, dan kaisar muda tersebut dengan syarat ia akan memegang perwalian atas Baldwin dan melindungi Kekaisaran Latin dari Theodore dari Epirus. Karena khawatir Bulgaria akan menduduki Konstantinopel, para pemimpin Latin menolak tawaran itu, meskipun mereka tetap melanjutkan perundingan dan pada saat yang sama mengirim utusan ke Roma untuk meminta nasihat kepausan. Dengan persetujuan paus baru, Gregorius IX, takhta Latin kemudian ditawarkan kepada John dari Brienne, mantan Raja Yerusakem, yang menerimanya pada April 1229.

John, yang sebelumnya memerintah Yerusalem melalui hak istrinya, Maria, dan kemudian sebagai wali bagi putri mereka Isabella II, telah tersingkir oleh Kaisar Romawi Suci Frederick II tidak lama setelah pernikahan Frederick dengan Isabella pada 1225. Setelah Gregorius IX mengekskomunikasi Frederick karena diduga gagal memenuhi nazar perang salibnya ke Tanah Suci, John memimpin pasukan kepausan menyerang Kerajaan Sisilia pada awal 1229, tetapi serangan itu berhasil dipukul mundur oleh Frederick. Pada masa yang sama, Perjanjian Jaffa yang disepakati antara Frederick dan al-Kamil, Sultan Mesir, memulihkan kekuasaan Kristen atas Yerusalem dan menetapkan gencatan senjata selama sepuluh tahun, sehingga untuk sementara menghapus Tanah Suci sebagai sasaran perang salib.

Pada Desember 1229, Paus Gregorius memberikan indulgensi perang salib kepada semua orang yang bersedia mendampingi John ke Konstantinopel dan bertugas di sana selama satu tahun. Dalam ensikkliknya, Gregorius berpendapat bahwa para peserta akan terlibat dalam tujuan ilahi "demi kepentingan Tanah Suci dan seluruh Gereja", sebab dukungan terhadap Kekaisaran Latin akan membantu Tanah Suci "seolah melalui jalan pintas". Pada awal 1230, Theodore dari Epirus berencana melancarkan serangan terhadap Konstantinopel, tetapi karena alasan yang tidak diketahui mengubah rencananya di tengah kampanye dan justru menyerbu Bulgaria. Pada April, pasukannya dikalahkan oleh John Asen dalam Pertempuran Klokotnitsa. Theodore ditangkap, dibutakan, dan dipenjarakan, sementara John Asen menang merebut sebagian besar Makedonia dan Trakia. Manuel Doukas, saudara Theodore sekaligus penerusnya di Thessalia, kemudian menjadi vasal John Asen.

John dari Brienne berhasil menghimpun pasukan yang terdiri atas 500 kesatria dan 5.000 prajurit. Pada Agustus 1231 ia menandatangani perjanjian dengan doge Venesia Jacopo Tiepolo untuk mengangkut pasukannya menuju "Konstantinopel, tanah Vatatzes, atau wilayah lain mana pun" di dalam Kekaisaran Latin. Paus Gregorius juga mendesak para bangsawan dan prelatus Hungaria yang telah mengambil salib untuk Tanah Suci agar bergabung dengan ekspedisi John atau menebus nazar mereka melalui sumbangan dana bagi usahanya. Namun misi para utusan kepausan di Hungaria gagal, sehingga paus memerintahkan Uskup Gregorius dari Győr untuk memastikan keberangkatan 300 tentara salib Hungaria demi menyelamatkan Kekaisaran Latin, bahkan jika mereka semula telah bernazar untuk berperang di Tanah Suci, dengan ancaman sanksi gerejawi bila menolak.

John menghadapi keadaan yang sangat sulit di Konstantinopel. Meskipun Geoffrey II dari Villehardouin, Pangeran Akhaya, menawarkan bantuan tahunan sebesar 20.000 hiperpyra untuk pertahanan ibu kota kekaisaran, John tidak mampu membayar pasukannya, sehingga kekuatan perang salib itu perlahan-lahan bubar.

Perundingan Persatuan Gereja

Setelah John dari Birenne mengambil alih kekuasaan di Konstantinopel, Ivan Asen II dari Bulgaria mulai berunding dengan kaisar Nikea, John Vatatzes. Pada 1232, Ivan Asen mencabut persatuan Gereja Bulgaria dengan kepausan dan mengakui yurisdiksi Patriark Konstantinopel Germanos II atas hierarki gerejawi Kekaisaran Tesalonika.

Karena disibukkan oleh konflik melawan Kesultanan Seljuk Rum di Anatolia, bangsa Venesia di Kreta, serta penguasa Yunani di Rhodes, Leo Gabalas, John Vetatzes mengambil pendekatan kompromistis terhadap bangsa Latin. Atas prakarsanya, Patriark Germanos mengusulkan perundingan dengan kepausan mengenai persatuan gereja pada musim panas 1232. Dalam balasannya—yang oleh Chrissis digambarkan sebagai"agal angkuh"—Paus Gregorius IX menyambut baik usulan tersebut sambil mengaitkan jatuhnya Kekaisaran Bizantium dengan skisma.

Menurut Chrissis, perundingan ini menunjukkan bahwa "kepausan secara serius mempertimbangkan alternatif selain mendukung Kekaisaran Latin melalui perang salib sebagai sarana memperluas pengaruh kepausan". Pembicaraan pada awalnya dilakukan melalui surat-menyurat, lalu melalui para utusan. Pihak Nikea menekankan kekejaman bangsa Latin selama penjarahan Konstantinopel, sedangkan wakil-wakil paus menuduh bangsa Yunani melakukan bidaah. Akibatnya, perundingan tersebut runtuh pada Mei 1234.

Segera setelah pembicaraan gagal, Gregorius kembali mengimbau para prelatus Hungaria agar menekan para tentara salib yang belum memenuhi nazar mereka terkait Konstantinopel untuk segera melaksanakannya, dengan ancaman interdik atau ekskomunikasi jika menolak. Namun bangsa Hungaria tetap enggan berperang demi Kekaisaran Latin, sehingga Gregorius dari Győr menjatuhkan interdik atas mereka.

Perang Salib Baldiwn II

Paus Gregorius IX memproklamasikan perang salib baru untuk Tanah Suci pada musim gugur 1234, dengan menetapkan Juli 1239—saat berakhirnya gencatan senjata sepuluh tahun yang disepakati pada 1229—sebagai waktu keberangkatan. Perang salib tersebut kemudian dikhotbahkan di Inggris dan Prancis oleh para biarawan Domonikan dan Fransiskann, serta berhasil menarik sejumlah bangsawan terkemuka Theobald IV daru Champagne, Peter dari Dreux, dan Richard dari Cornwall.

Setelah gagalnya perundingan persatuan gereja antara Nikea dan kepausan, Kaisar John Vetatzes telah mengakhiri perangnya melawan Kesultanan Seljuk, memaksa Leo Gabalas tunduk, dan kembali melancarkan permusuhan terhadap bangsa Latin. Pada musim semi 1235, ia menjalin persekutuan dengan Bulgaria yang diperkuat melalui pernikahan Helena dari Bulgaria dengan Theodore, putra Vetatzes. Pasukan Nikea kemudian menduduki Trakia timur dan, dengan dukungan Bulgaria, mengepung Konstantinopel, yang dipertahankan oleh John dari Brienne dengan bantuan Venesia dan Akhaya.

Khawatir terhadap ancaman tersebut, Gregorius mengeluarkan bulla Ut Israelem veteris, yang menyerukan para tentara salib di Prancis dan Hungaria yang telah bernazar untuk pergi ke Tanah Suci agar mengalihkan upaya mereka ke pembelaan Konstantinopel. Dalam suratnya kepada Béla IV dari Hungaria, paus menegaskan bahwa berperang melawan bangsa Bulgaria dan Nikea yang dianggap skismatis dakan menguntungkan baik Konstantinopel maupun Tanah Suci serta memberikan pahala ganda. Ia juga memperingatkan bahwa apabila Konstantinopel jatuh ke tangan bangsa Yunani, yang "lebih membenci bangsa Latin daripada kaum kafir", maka hilangnya Tanah Suci akan menyusul. Seruan serupa juga ditujukan kepada saudara Béla, Coloman, Adipati Slavonia, yang saat itu sedang memimpin perang salib melawan kaum bidaah Bosnia.

Paus Gregorius memerintahkan agennya, William dari Cordelle, untuk mengalihkan nazar perang salib 400 kesatria guna mendorong partisipasi mereka dalam pembelaan Konstantinopel, sementara para utusan khusus mengkhotbahkan perang salib di Prancis dan Hungaria. Upaya-upaya ini hanua memperoleh sambutan terbatas, sehingga pais menerbitkan bulla perang salib baru bagi Konstantinopel pada Januari 1236. Peter dari Dreux tampaknnya berjanji untuk memimpin ekspedisi tersebut, sebagaimana ditunjukkan oleh surat tertanggal 23 Oktober 1236 yang mengindikasikan bahwa Gregorius telah menunjuknya sebagai pemimpin. Paus juga membebaskan kanselir Peter, Uskup Ranulf dari Quimper, dari nazarnya ke Tanah Suci agar ia dapat mengelola wilayah Peter selama ketidakhadirannya sambil tetap memperoleh indulgensi perang salib. Gregorius mengumpulkan dana melalui sumber-sumber pendapatan perang salib yang telah mapan, termasuk pajak atas penghasilan rohaniawan dan indulgensi yang diberikan sebagai imbalan pembayaran uang.

Ketika Konstantinopel berada di ambang penaklukan, bangsa Latin mengirim Kaisar muda Baldwin II ke Barat untuk mencari bantuan. Kota itu akhirnya terselamatkan akibat pecahnya hubungan antara Nikea dan Bulgaria, karena Ivan Asen menyadari bahwa jatuhnya Konstantinopel terutama akan menguntungkan Nikea. Ia menarik pasukannya dari pengepungan, menyatakan perang terhadap Nikea, dan bersekutu dengan bangsa Latin untuk menyerang banteng Tzurulum yang baru saja direbut oleh Nikea. Namun ketika wabah penyakit merenggut nyawa istrinya, putranya, dan patriark Bulgaria, Ivan Asen menafsirkan peristiwa itu sebagai hukuman ilahi, memutus hubungan dengan bangsa Latin, dan memperbarui aliansinya dengan Nikea pada 1237.

Keberangkatan para tentara salib Prancis menuju Konstantinopel berulang kali tertunda. Pada 8 Desember 1236, Paus Gregorius mengeluarkan bulla baru, Ad subveniendum imperio, bagi Prancis dan Hungaria, yang kembali menekankan bidaah bangsa Yunani. Bulla tersebut menetapkan bahwa dana yang terkumpul harus digunakan sesuai arahan Kaisar Baldwin. Ketika persiapan perang salib ke Tanah Suci dan Konstantinopel berlangsung secara bersamaan, Gregorius memerintahkann agar hasil pengalihan nazar perang salib di Kekaisaran Latin serta di keuskupan Cambrai, Tournai, dan Arras dialokasikan untuk kampanye yang mendukung Kekaisaran Latin. Ia juga menulis kepada John Vatatzes dan mengancamnya dengan perang salib yang akan datang; Vatatzess menjawab secara sinis dan menyebutnya sebagai "penghinaan terhadap Tanah Suci dan permainan atas nama Salib".

Pada akhir 1237, Gregorius meningkatkan upaya pembiayaan ekspedisi dengan mengalokasikan pendapatan perang salib dari Bretagne, Poitou dan Anjou, meskipun keberangkatan kembali ditunda hingga Agustus 1238. Setelah mengetahui bahwa Ivan Asen telah memperbarui aliansinya dengan Vatatzes, Gregorius menyerukan agar perang salib melawan Bulgaria dikhotbahkan di Hungaria dan memberikan hak atas Bulgaria kepada Béla IV, yang digambarkan sebagai wilayah yang "terjangkit kebejatan bidaah". Namun Béla tidak melancarkan kampanye apa pun.

Di prancis belum pernah sebelumnya perang salib untuk Kekaisaran Latin diproklamasikan seluas ini. Para uskup agung Vienna, Lyon, Besançon, dan Bourges, bersama para uskup Cambai, Toul, Metz, Liège, dan Verdun, diperintahkan untuk mengkhotbahkannya, sementara para Dominikan diberi wewenang untuk melakukan hal yang sama di seluruh kerajaan. Gregorius juga mengajukan permohonan langsung kepada sejumlah bangsawan, termasuk Humbert V daru Beauje dan John II dari Soissons, dengan menjanjikan bantuan keuangan kepada yang pertama dan mengancam yang kedua dengan ekskomunikasi. Seruan paus untuk mendukung perang salib ini memicu penentangan, terutama dari kalangan rohaniawan. Pada November 1238, Gregorius meminta Louis IX dari Prancis dan Henry III dari Inggris untuk membujuk para prelatus mereka agar menyumbangkan sepertiga puluh pendapatan gerejawi selama tiga tahun. Pada saat itu Peter dari Dreux telah memutuskan untuk berangkat dalam perang salib ke Tanah Suci alih-alih membantu Kekaisaran Latin, dan keputusan tersebut diikuti oleh bangsawan lain, termasuk John dari Soissons. Meskipun menghadapi kemunduran tersebut, Gregorius menetapkan Maret 1239 sebagai tanggal keberangkatan baru dan menunjuk Baldwin II sebagai pemimpin ekspedisi. Menurut Annales Erphordenses, sekitar 2.000 tentara salib Prancis bergabung dalam ekspedisi ini.

Untuk memperoleh dana tambahan, Baldwin menjual Mahkota Duri kepada Louis IX dan menggadaikan County Namur seharga 50.000 livre Paris. Tuntutan kepausan yang diperbarui mengenai pengalihan nazar perang salib memicu perlawanan lebih lanjut. Richard dari Cornwall dan para pengikutnya bersumpah tidak akan membiarkan nazar sah mereka dihalangi oleh Takhta Suci atau dialihkan untuk menumpahkan darah sesama Kristen. Para tentara salib yang berkomitmen pada Tanah Suci, terutama Theobald IV, juga mengkritik upaya mengalihkan nazar mereka demi kepentingan Kekaisaran Latin.

Baldwin dan pasukan perang salibnya, yang dilaporkan berjumlah lebih dari 30.000 orang, berangkat pada akhir musim panas 1239. Setelah melintasi Jerman dan Hungaria, mereka mencapai Bulgaria, tempat Ivan Asen—meskipun bersekutu dengan John Vetatzes— memberikan izin melintas dengan aman sehingga mereka dapat tiba di Trakia pada awal 1240. Dengan bantuan bangsa Kuman, mereka berhasil merebut kembali Tzurulum dari Nikea. Setelah itu, sebagaimana dicatat oleh Fine, para tentara salib tersebut menghilang "ke dalam ketidakjelasan", sebagian kemungkinan kembali ke tanah air mereka, sementara yang lain memasuki dinas Kekaisaran Latin.

Sementara itu, ekspansi Kaisar Frederick di Italia menyebabkan keretakan dengan kepausan. Paus Gregorius mengekskomunikasikannya dengan alasan, antara lain, keengganannya mendukung upaya perang salib bagi Tanah Suci dan Kekaisaran Latin. Setelah Frederick menyerang Roma, Gregorius memproklamasikan perang salib terhadapnya pada Februari 1240. Sejak saat itu, minat Gregorius terhadap perang salib melawan musuh-musuh Kekaisaran Latin menurun secara signifikan. Meskipun pada Oktober ia masih memerintahkan para prelatus Prancis untuk mengalokasikan sebagian besar dana perang salib yang terkumpul bagi pertahanan kekaisaran, ia tidak lagi memerintahkan perekrutan pasukan baru. Namun demikian, pada awal dekade 1240-an para inkuisitor masih terus memaksa mereka yang dituduh melakukan bidaah di Occitania untuk mengambil salib demi Konstantinopel.

Referensi

  1. ^ Chrissis 2013, hlm. 3-5.
  2. ^ a b "The final battle of the Latin Crusades was a bloody siege that resulted in the downfall of the last crusader-held territories". Warfare History Network (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-05-31.
  3. ^ Setton 1976, hlm. 14.
  4. ^ "The Fourth Crusade and the Latin Empire of Constantinople | History Today". www.historytoday.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-05-31.
  5. ^ Chrissis 2013, hlm. 9-10.
  6. ^ Fine 2009, hlm. 55-56.
  7. ^ Ducellier 2017, hlm. 783.
  8. ^ Fine 2009, hlm. 81-82.
  9. ^ Lock 2006, hlm. 87-88.
  10. ^ Lock 2006, hlm. 88.
  11. ^ Chrissis 2013, hlm. 21-25.
  12. ^ Chrissis 2013, hlm. 25-28.
  13. ^ Chrissis 2013, hlm. 28.
  14. ^ Norden 1903, hlm. 176.
  15. ^ Gerland 1905, hlm. 137.
  16. ^ Chrissis 2013, hlm. 28-29.
  17. ^ Fine 2009, hlm. 84-88.
  18. ^ Fine 2009, hlm. 91-92.
  19. ^ Ducellier 2017, hlm. 784-785.
  20. ^ Fine 2009, hlm. 88-89.
  21. ^ Fine 2009, hlm. 82, 90.
  22. ^ Chrissis 2013, hlm. 51.
  23. ^ Chrissis 2013, hlm. 35-38.
  24. ^ Chrissis 2013, hlm. 40.
  25. ^ Chrissis 2013, hlm. 42.
  26. ^ Chrissis 2013, hlm. 51-53.
  27. ^ Treadgold 1997, hlm. 717-718.
  28. ^ Chrissis 2013, hlm. 49-50.
  29. ^ Lock 2006, hlm. 91.
  30. ^ Fine 2009, hlm. 112.
  31. ^ Setton 1976, hlm. 44.
  32. ^ Fine 2009, hlm. 112-113.
  33. ^ Chrissis 2013, hlm. 62-66.
  34. ^ Chrissis 2013, hlm. 66-68.
  35. ^ a b Setton 1976, hlm. 45.
  36. ^ Chrissis 2013, hlm. 74-75.
  37. ^ Chrissis 2013, hlm. 69-71.
  38. ^ Setton 1976, hlm. 50.
  39. ^ Chrissis 2013, hlm. 73-74.
  40. ^ Treadgold 1997, hlm. 719.
  41. ^ Chrissis 2013, hlm. 71.
  42. ^ a b Chrissis 2013, hlm. 76-78.
  43. ^ Setton 1976, hlm. 53.
  44. ^ Fine 2009, hlm. 120.

Bibliografi

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.