Jajangkungan
Jajangkungan merupakan permainan tradisional yang berasal dari masyarakat Sunda dan sudah dikenal sejak lama sebagai permainan rakyat yang banyak dimainkan anak-anak di daerah pedesaan. Permainan ini juga sering disebut egrang, sedangkan di beberapa daerah lain dikenal dengan nama tengkak-tengkak atau jangkungan. Pada zaman dahulu, jajangkungan menjadi salah satu hiburan sederhana yang dimainkan secara turun-temurun oleh anak-anak bersama teman-temannya [1]. Bambu digunakan sebagai bahan utama karena mudah ditemukan di lingkungan sekitar dan cukup kuat untuk menopang tubuh pemain. Selain dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, bambu pada masa itu juga dimanfaatkan masyarakat untuk membuat berbagai permainan tradisional. Jajangkungan sering dimainkan pada sore hari di halaman rumah, lapangan, atau jalanan desa. Permainan ini juga kerap hadir dalam perlombaan rakyat seperti perayaan hari kemerdekaan, pesta desa, maupun acara adat. Bagi masyarakat dahulu, jajangkungan bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari kebersamaan dan kehidupan sosial anak-anak di lingkungan sekitar.
Permainan jajangkungan menggunakan dua batang bambu yang dipasangi pijakan kaki pada bagian bawahnya. Pemain berdiri di atas pijakan tersebut sambil memegang bambu dengan kuat agar tubuh tetap seimbang. Setelah berhasil berdiri dengan stabil, pemain mulai melangkah perlahan dengan menggerakkan bambu secara bergantian. Untuk memainkan permainan ini dibutuhkan keberanian, konsentrasi, dan keseimbangan tubuh yang baik karena pemain harus berjalan dalam posisi yang lebih tinggi dari permukaan tanah. Anak-anak yang baru belajar biasanya berjalan pelan sambil berpegangan atau dibantu teman sampai terbiasa menjaga keseimbangan. Setelah mahir, pemain dapat berjalan lebih cepat bahkan berlari menggunakan jajangkungan. Karena cukup menantang, permainan ini dianggap seru dan menyenangkan bagi anak-anak. Jajangkungan dapat dimainkan sendiri maupun bersama teman-teman dalam bentuk perlombaan. Biasanya, pemenang ditentukan dari pemain yang paling cepat mencapai garis akhir atau yang paling lama mampu bertahan tanpa jatuh[2]. Selain melatih kemampuan fisik, permainan ini juga mengajarkan semangat sportivitas dan kebersamaan.
Pada masa lalu, jajangkungan menjadi permainan favorit anak-anak karena mudah dibuat dan tidak membutuhkan biaya mahal. Banyak anak membuat sendiri alat permainannya dengan bantuan orang tua atau teman sebaya. Dari kegiatan tersebut, anak-anak belajar bekerja sama, kreatif, dan mandiri. Permainan ini juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Saat bermain jajangkungan, tubuh dituntut untuk terus bergerak dan menjaga keseimbangan sehingga otot tangan, kaki, dan tubuh ikut terlatih. Selain itu, permainan ini juga membantu meningkatkan kelincahan, koordinasi gerak, dan daya tahan tubuh anak-anak.
Hasil penelitian mengenai permainan tradisional egrang menunjukkan bahwa permainan ini memberikan manfaat yang baik bagi kebugaran jasmani siswa sekolah dasar. Permainan egrang dapat membantu meningkatkan keseimbangan tubuh, koordinasi antara mata, tangan, dan kaki, serta memperkuat otot tangan dan kaki. Penelitian tersebut juga memperlihatkan bahwa latihan menggunakan egrang lebih efektif dalam melatih keseimbangan dibandingkan beberapa permainan tradisional lainnya. Selain membuat anak lebih aktif bergerak, permainan ini juga dapat melatih ketangkasan dan kemampuan motorik. Oleh karena itu, egrang dianggap layak diterapkan dalam pembelajaran pendidikan jasmani karena selain menyehatkan tubuh, permainan ini juga menjadi salah satu cara untuk menjaga dan melestarikan budaya tradisional Indonesia agar tidak hilang akibat perkembangan permainan modern saat ini[3].
Referensi
- ^ "Permainan Tradisional Sunda/Jajangkungan - Wikibuku bahasa Indonesia". id.wikibooks.org. Diakses tanggal 2026-05-10.
- ^ "Client Challenge". id.scribd.com. Diakses tanggal 2026-05-10.
- ^ Gulo, Rudolf Kesatria; Putri, Rachel Junika Abelia; Sitepu, Pijai Prana; Tarigan, Prama Uda; Praninci; Gea, Putra Friendlyman; Siregar, Primayadi Perwira; Silaban, Putra Anugrah; Girsang, Parulian Pandapotan (2023-10-12). "STUDI ANALISIS PERMAINAN TRADISIONAL EGRANG TERHADAP KEBUGARAN JASMANI UNTUK SISWA SD NEGERI DESA DOULU KECAMATAN BERASTAGI". Jurnal Ilmiah STOK Bina Guna Medan (dalam bahasa Inggris). 11 (2): 208–216. doi:10.55081/jsbg.v11i2.1461. ISSN 2776-3994.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.