Hiperplasia prostat jinak

Hiperplasia prostat jinak
Diagram prostat yang normal (kiri) dan hiperplasia prostat jinak (kanan)
SpesialisasiUrologi
Awitan umumUmur lebih dari 40[1]
PenyebabTidak jelas[1]
Faktor risikoSejarah kemunculan kondisi pada keluarga, kegemukan, diabetes tipe 2, jarang olahraga, disfungsi ereksi[1]
PengobatanMengubah gaya hidup, obat-obatan, sejumlah prosedur, operasi[1][2]
Frekuensi105 juta di seluruh dunia (2015)[3]

Hiperplasia prostat jinak atau pembesaran prostat jinak (bahasa Inggris: benign prostatic hyperplasia, disingkat BPH) adalah suatu kondisi ketika kelenjar prostat mengalami pembengkakan yang bukan kanker.[1] Gejala-gejalanya dapat berupa sering ingin buang air kecil (khususnya pada malam hari), kesulitan untuk mulai buang air kecil, aliran urin yang tersendat, ketidakmampuan untuk buang air kecil, dan hilangnya kendali atas kandung kemih.[1]

Penyebab kondis ini tidak diketahui.[1] Faktor risiko meliputi sejarah kemunculan kondisi pada keluarga, kegemukan, diabetes tipe 2, jarang olahraga, dan disfungsi ereksi.[1] Obat-obatan seperti pseudoefedrin, antikolinergik, dan penghambat kanal kalsium dapat memperburuk gejalanya.[2] Mekanisme yang memicu kondisi ini adalah prostat yang menekan uretra, sehingga sulit untuk mengeluarkan urin dari kandung kemih.[1]

Cara mengobatinya adalah dengan mengubah gaya hidup, obat-obatan, sejumlah prosedur, dan operasi.[1][2]

Terdapat sekitar 105 juta orang di seluruh dunia yang terkena hiperplasia prostat jinak.[3] Kondisi ini biasanya mulai muncul pada usia 40.[1] Setengah laki-laki berumur 50 atau lebih terserang kondisi ini.[2] Setelah umur 80, terdapat sekitar 90% laki-laki yang mengidap hiperplasia prostat jinak.[1] Walaupun kadar prostat spesifik antigen dapat naik pada laki-laki yang mengidap kondisi ini, risiko kanker prostat tidak akan bertambah.[4]

Catatan kaki

  1. ^ a b c d e f g h i j k l "Prostate Enlargement (Benign Prostatic Hyperplasia)". NIDDK. September 2014. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Oktober 2017. Diakses tanggal 19 Oktober 2017.
  2. ^ a b c d Kim, EH; Larson, JA; Andriole, GL (2016). "Management of Benign Prostatic Hyperplasia". Annual Review of Medicine (Review). 67: 137–51. doi:10.1146/annurev-med-063014-123902. PMID 26331999.
  3. ^ a b GBD 2015 Disease and Injury Incidence and Prevalence, Collaborators. (8 October 2016). "Global, regional, and national incidence, prevalence, and years lived with disability for 310 diseases and injuries, 1990–2015: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2015". Lancet. 388 (10053): 1545–1602. doi:10.1016/S0140-6736(16)31678-6. PMC 5055577. PMID 27733282. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  4. ^ Chang, RT; Kirby, R; Challacombe, BJ (Apr 2012). "Is there a link between BPH and prostate cancer?". Practitioner. 256: 13–6, 2. PMID 22792684.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.