Dibamus oetamai


Dibamus oetamai
Jantan dewasa dari Dibamus oetamai sp. nov. dari Kawasan Lindung Hutan Lambusango, Pulau Buton.
Klasifikasi ilmiah
Domain:
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
Dibamus oetamai

Prasetyo et al., 2025


Dibamus oetamai atau kadal buta buton adalah spesies kadal buta (Dibamus) endemik dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Kadal buta ini hidup tersembunyi di bawah permukan tanah, terutama di lapisan serasah hutan yang lembap.

Morfologi

Spesies ini memiliki panjang tubuh maksimum 145,7 milimeter dan berekor pendek berkisar 12-14 persen dari panjang tubuh. Spesies betina tidak memiliki kaki, sedangkan jantan memiliki kaki belakang kecil berbentuk sirip. Salah satu kekhasan spesies ini yang tak ditemukan di spesies lainnya yaitu adanya dua hingga tiga pita terang pada tubuh. Kemudian, juga tidak ada sutura rostral (garis sambungan tulang di moncong depan tengkorak) medial (tengah moncong) dan lateral (samping moncong), serta memiliki jumlah dan posisi sisik kepala dan dagu yang unik. Sisik-sisik di bagian kepala menjadi salah satu kunci identifikasi spesies ini.

Identifikasi

Identifikasi spesies ini dilakukan oleh para peneliti Universitas Gajah Mada, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Institut de Systematique Evolution et Biodiversite (ISYEB) Perancis, serta University of Melbourne Victoria, Australia. Laporan penelitian identifikasi spesies ini dipublikasikan pada Journal of Asian Biodiversity Taprobanica edisi 25 April 2025.[1]

Proses identifikasi spesies baru ini bermula ketika Maximilianus Dwi Prasetyo, saat itu sedang menempuh pendidikan sarjana di UGM, mendatangi Awal Riyanto dengan sampel kadal buta dari Pulau Buton. Awal yang merupakan ahli herpetologi dan pembimbing dari UGM itu merekomendasikan Prasetyo untuk mengevaluasi semua spesies Dibamus di Indonesia berdasarkan sampel koleksi di museum. Hasilnya, diketahui bahwa sampel Dibamus dari Pulau Buton itu adalah spesies baru.[2]

Setelah Prasetyo lulus tahun 2022, ia dan Awal tetap berkolaborasi untuk menulis laporan penelitian. Namun, karena kekurangan data di museum, mereka mengajak peneliti di luar negeri yang memiliki data tentang Dibamus.

Tim peneliti mempelajari taksonomi Dibamus novaeguineae sensu lato di Indonesia dengan memeriksa semua spesimen dari wilayah Wallacea dan Papua Barat daratan yang disimpan di Museum Zoologi Bogor. Mereka juga mengevaluasi bukti morfologi dan biogeografi dari spesies tersebut. Dengan membandingkan spesies Dibamus novaeguineae sensu stricto di Papua dan Dibamus novaeguineae sensu lato di Kepulauan Sunda Kecil, hasil analisis menunjukkan bahwa populasi Dibamus novaeguineae di Pulau Buton merupakan fenotipe endemik yang berbeda.

Holotipe adalah seekor jantan dewasa, dengan nomor spesimen MZB 4273 dan panjang tubuh (SVL) 103,4 mm. Spesimen ini dikoleksi dari Kakenauwe, Kecamatan Lasalimu, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, Indonesia (5°10'59.10 LS, 122°54'59.65 BT; datum = WGS84; 14 meter di atas permukaan laut), oleh G.R. Gillespie pada tanggal 21 Juli 2002. Paratipe terdiri dari lima spesimen. Seluruh spesimen dikoleksi dari lokasi dan waktu yang sama dengan holotipe :

  • Jantan dewasa: MZB 4276 (Snout-Vent Length (SVL) / panjang moncong hingga kloaka : 145,7 mm), MZB 4278 (SVL 117,0 mm)
  • Jantan muda: MZB 4272 (SVL 62,4 mm)
  • Betina dewasa: MZB 4274 (SVL 138,6 mm), MZB 4279 (SVL 117,2 mm)

Etimologi

Kata "oetamai" dipilih sebagai penghormatan kepada tokoh pers sekaligus pendiri Kompas, Jakob Oetama. Nama ini diusulkan oleh dua peneliti dari Pusat Riset Biosistematika Evolusi BRIN yang bertindak selaku penulis koresponden, yakni Thasun Amarasinghe dan Awal Riyanto. Awal memandang, secara filosofis, jurnalis dan peneliti merupakan profesi yang memiliki kesamaan, yakni mengungkap fakta untuk mencari kebenaran melalui proses yang tervalidasi. "Kami sempat berdebat mengenai penamaan spesies baru ini. Namun, akhirnya Dibamus oetamai disepakati karena spesimen ini berasal dari Indonesia. Dalam aturan tata nama spesies baru ini juga tidak ada larangan. Kami kemudian memasukkan nama spesies baru ini ke jurnal tahun lalu dan baru tahun ini dipublikasikan," tutur Awal.

Referensi

  1. ^ M. Dwi Prasetyo, D. Satria Yudha, A.A. Thasun Amarasinghe, Ivan Ineich, G.R. Gillespie, Awal Riyanto (April 25, 2025) "A New Blind Skink (Reptilia : Dibamidae : Dibamus) From Buton Island, Indonesia" TAPROBANICA Vol. 14 : No 01
  2. ^ MTK (7 Mei 2025) "Peneliti Menghormati Jasa Jakob Oetama" Kompas. hal 8

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.